Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi BINUS University Ungkap Makna “Diam” dalam Komunikasi Keluarga Pasca-Perceraian, Tembus Jurnal Internasional Q2
Jakarta – Mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi (MIK) BINUS University kembali menorehkan prestasi di kancah akademik internasional. Kali ini, karya ilmiah Hasna Afra Nafisa berhasil dipublikasikan pada Frontiers in Communication, jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q2. Artikel berjudul “Speaking through Silence: Relational Communication among Only Daughters in Post-Divorce Indonesian Families” tersebut ditulis bersama Virienia Puspita sebagai kontribusi terhadap pengembangan kajian komunikasi keluarga dan komunikasi interpersonal dalam konteks budaya Indonesia.
Selama ini, riset komunikasi keluarga banyak menempatkan dialog terbuka sebagai indikator utama kesejahteraan keluarga, sebuah asumsi yang berakar dari konteks budaya individualis. Padahal, asumsi tersebut belum tentu relevan bagi konteks budaya kolektivis seperti Indonesia, di mana menjaga keharmonisan relasional kerap lebih diutamakan daripada ekspresi langsung.
Berangkat dari kesenjangan ini, penelitian tersebut menelusuri bagaimana anak perempuan tunggal (only daughters) di wilayah urban Indonesia memaknai dan menjalani komunikasi keluarga pasca-perceraian orang tua. Dengan menggunakan metode interpretative phenomenological analysis (IPA), peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap lima anak perempuan tunggal untuk memahami pengalaman hidup dan proses pemaknaan yang mereka jalani. (Frontiers)
Diam Bukan Kegagalan Komunikasi, Melainkan Bentuk Kepedulian
Penelitian ini melahirkan sebuah konsep teoretis baru: protective relational silence, strategi komunikasi yang secara sengaja digunakan anak perempuan untuk mengelola ketegangan emosional, mencegah konflik semakin membesar, serta menjaga stabilitas diri dan hubungan keluarga. Konsep ini terhubung dengan dua tema besar lain yang ditemukan dalam penelitian:
- Negosiasi batas relasional, yang menggambarkan bagaimana anak perempuan memaknai ulang peran orang tua melalui negosiasi tanggung jawab.
- Pemeliharaan relasi yang dimediasi anak perempuan, yang mengungkap bagaimana mereka mengambil peran penengah untuk menjaga kohesi keluarga tetap utuh.
Temuan ini menunjukkan bahwa anak perempuan tunggal bukanlah penerima pasif dari konflik keluarga, melainkan agen aktif yang secara strategis membentuk ulang relasi keluarga mereka. (Frontiers)
Penelitian ini memperluas teori interaksionisme simbolik dengan memaknai diam bukan sebagai kegagalan komunikasi, melainkan sebagai tindakan simbolis dan agentif yang tertanam secara budaya sebagai bentuk kepedulian relasional. Studi ini juga mengajukan model proses yang menggambarkan bagaimana konflik pasca-perceraian memicu penggunaan strategi-strategi adaptif tersebut.
Temuan ini menantang perspektif yang selama ini cenderung memandang situasi pasca-perceraian dari sudut pandang kekurangan (deficit-oriented), sekaligus mendorong para praktisi klinis untuk mengembangkan intervensi berbasis mekanisme yang mengakui dan mendukung kerja komunikasi kompleks yang dijalankan anak perempuan dalam keluarga pasca-perceraian. (Frontiers)
Pencapaian ini menjadi bukti kualitas riset yang dihasilkan mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi BINUS University sekaligus mempertegas komitmen program studi dalam mendorong publikasi ilmiah bertaraf internasional. Keberhasilan menembus Frontiers in Communication, jurnal terindeks Scopus Q2, diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk terus menghasilkan penelitian yang inovatif, relevan, dan memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu komunikasi di tingkat global.
Comments :